Jumat, 06 Maret 2009

Visi dan Misi OKJTG FT-UH

By : Chandra Yudha G’05

PENGANTAR

Kitab ini merupakan kitab tuntunan dalam menggerakkan roda kepengurusan OKJTG FT-UH dengan melihat kondisi kekinian lingkungan geologi.

Besar harapan penulis agar pengurus bersedia membaca dan mengaplikasikan kitab ini pada OKJTG FT-UH.

PENDAHULUAN

Tujuan OKJTG FT-UH

Tujuan OKJTG FT-UH adalah menciptakan iklim pada jurusan teknik geologi yang dapat membentuk sikap mental mahasiswa agar terbiasa ilmiah, idealis, kritis, serta memiliki keahlian yang mengarah kepada propesionalisme dan menyukseskan tujuan pendidikan nasional serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi kelangsungan bangsa yang lebih baik.

Tujuan OKJTG FT-UH diatas telah membuktikan bahwa tujuan OKJTG FT-UH begitu ideal, namun pernahkah kita sadar tujuan tersebut sangat abstrak dan kontroversial. Cobalah tanyakan pada diri anda (tabe’ kalo kita yang baca JENDRAL), Apa?,Kenapa?Untuk apa?Mau Kemana? Dan pertanyaan-pertanyaan lain. Sekarang ini kader-kader geologi hanya seperti kutu yang hidup pada bulu anjing, yang hanya menjadi penikmat-penikmat sejarah dari Veteran-veteran yang rela mati demi OKJTG FT-UH, tanpa pernah mau bertanya dari mana anjing dan darah, kenapa saya harus hidup dibulu anjing dan minum darah, untuk apa saya ada di bulu anjing dan diberi minum darah, mau kemana saya setelah dari bulu anjing dan minum darah, serta pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Penulis yakin, kalau sekarang darah pembaca sedang berkobar dan membuat pertanyaan siapa orang “T.L.S” ini yang bilang anak geologi (JENDRAL tidak termasuk) itu kutu peminum darah, baiklah saya kenalakan nama saya Chandra Yudha D62105017, satu dari sekian banyak kutu yang sempat bertanya!. Sekarang marilah kita bersama-sama menggugat OKJTG FT-UH, awalnya penulis mencoba mendeskripsikan tujuan OKJTG FT-UH tanpa perlu mendefenisikannya sebab itu akan membatasi dan mengekang kalimat tersebut. Sebelumnya penulis ingin menyampaikan bahwa arti kata tersebut dapat berarti ambigu dan abstrak sebab penulis mencoba menganalisis kata demi kata dan perlu diingat bahwa kamus,waktu,kesepakatan tidak dapat dijadikan sebagai patron kebenaran sehingga pada sesi ini penulis hanya mampu mengarahkan pembaca terhadap nalar pemahaman ideologis dan filosofis agar lebih jelas.

Deskripsi Tujuan OKJTG FT-UH

Menciptakan : menjadikan sesuatu yang baru (kamus besar bahasa Indonesia, DEPDIKBUD, 1990), artinya harus ada penciptaan baru dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada, pertanyaan susulannya adalah apakah kita telah mencipta?, mencipta Apa? Untuk apa?

Iklim : Keadaan atau kondisi lingkungan (kamus besar bahasa Indonesia, DEPDIKBUD, 1990), ternyata jawaban dari pertanyaan diatas ada pada kata ini yaitu kita diharapkan mampu “Menciptakan Iklim”, namun masih belum terjawab untuk apa?

Pada : arah atau sasaran, penulis rasa untuk kata ini sudah sangat jelas bahwa organisasi adalah interaksi antar individu, dan OKJTG FT-UH adalah interaksi antara mahasiswa geologi sehingga termaktub jelas bahwa pada yang dimaksud adalah pada jurusan teknik geologi unhas tentunya.

Yang : menyatakan bahwa kata atau kalimat berikut diutamakan dan dibedakan dari yang lain (kamus besar bahasa Indonesia, DEPDIKBUD, 1990).

Dapat : Mampu, sanggup, boleh (kamus besar bahasa Indonesia, DEPDIKBUD, 1990).

Membentuk : membuat bentuk (kamus besar bahasa Indonesia, DEPDIKBUD, 1990),artinya selama ini belum ada bentuk pada OKJTG FT-UH dari zaman-zaman veteran???, tentu tidak, namun harapan kata diatas adalah pembentukan metodolis dan praktis tentang pencapaian sasaran OKJTG FT-UH terbentuk.

Sikap mental : sikap adalah prilaku atau tindakan dan mental adalah watak dan keperibadian (kamus besar bahasa Indonesia, DEPDIKBUD, 1990). Artinya sangat jelas terlihat bahwa aspek pengembangan OKJTG FT-UH mengarah kepada pembentukan aspek phisikomotorik dan apektif.

Ilmiah, idealis, kritis : ilmiah adalah bersifat ilmu, idealis adalah cita-cita tinggi(Konseptual), kritis adalah sikap tidak dapat lekas percaya (kamus besar bahasa Indonesia, DEPDIKBUD, 1990). Dari ketiga sasaran diatas lebih memperjelas aspek pencitaan iklim serta sikap mental yang diharapkan itu seperti apa.

Yang mengarah kepada : sesuai dengan pemaparan-pemaparan sebelumnya terlihat bahwa tujuan tersebut telah coba didefenisikan secara lebih terinci dan terarah, dengan harapan membatasi tujuan agar tidak terlalu luas dan menimbulkan pembengkakan konsentrasi.

Profesionalisme : kata ini terdiri dari dua sub yaitu profesi dan isme artinya secara etimologi dapat diartikan sebagai paham tentang keprofesian, artinya harapan OKJTG FT-UH agar tujuannya dapat sejalan dengan tujuan perguruan/pendidikan tinggi.

Tujuan pendidikan Nasional : “Mencerdaskan kehidupan bangsa” Alinea ke-4 UUD 1945 RI.

Kontribusi : keikutsertaan, sumbagsih (kamus besar bahasa Indonesia, DEPDIKBUD, 1990). Ada pepatah kuno berbunyi hidup tanpa ilmu itu hampa, namun ilmu tanpa aplikasi itu juga hampa, sehingga kemudian kata ini dapat muncul. Artinya harapan OKJTG FT-UH adalah agar melalui profesionalisme dan sikap mental yang telah tercipta kiranya mampu memberika sumbangsih nyata terhadap bangsa ini.

Sangat panjang sudah kita mengulas mengenai tujuan OKJTG FT-UH, pertanyaan penulis apakah tujuan tersebut dapat terwujud nyata dalam kontekstualnya atau dalam artian aplikasi dan realitas? Penulis dalam tulisan ini berani menjawab bahwa tujuan tersebut mustahil dapat tercapai, pertanyaan selanjutnya jika tujuan tersebut mustahil mengapa hal tersebut tetap menjadi pedoman konstitusional OKJTG FT-UH, jawabannya adalah agar roda keorganisasian tidak dapat terputus, sebab jika tujuan suatu komunitas telah terpenuhi maka untuk apa lagi komunitas tersebut berdiri atau eksis. Sangat sering kita mendengar bahwa lembaga kemahasiswaan itu merupakan lembaga proses bukan lembaga hasil, jadi variable hasil dalam hal ini diabaikan, namun jika melihat hakikat berdirinya suatu organisasi adalah pencapaian hasil bersama dengan usaha bersama, artinya dapat diasumsikan bahwa hasil yang dimaksudkan mungkin adalah “Proses”, jawabannya bukan tujuan OKJTG FT-UH pada hakikatnya adalah mengembangkan potensi pencapaian hasil melalui kamuflase proses. Dalam upaya pencapaian tujuan OKJTG FT-UH telah tertuang dalam PDOKJTG FT-UH, namun silahkan kaji keabstraksian dan idealitas serta realitasnya. Pada tahapan ini penulis merasa pembaca telah cukup paham aspek ideologis dan filosofis yang tidak tersurat pada tujuan OKJTG FT-UH. Sehingga kita dapat melangkah pada bahasan selanjutnya.

KADER

Terbentuknya suatu organisasi merupakan hasil dari interaksi antar individu yang menciptakan wacana bersama sehingga mengarahkan kamunitasnya dalam pencapaian hasil bersama, melihat defenitif tersebut artinya suatu organisasi terdiri dari beberapa individu yang kita sebut kader. Pertanyaan yang muncul kemudian apakah kader itu sama dengan anggota, sedangkan menurut salah satu ilmu filsafat yaitu logika adalah A=A dan B=B sehingga A mustahil sama dengan B, artinya kader tidak sama dengan anggota, penulis berharap agar pembaca dapat sejalan dengan pernyataan diatas, pertanyaannya selanjutnya apa itu anggota dan apa itu kader?, saya akan mencoba menggambarkan defenisi kata-kata tersebut anggota adalah individu yang ada secara administrative sedangkan kader adalah individu yang ada secara aplikatif sesuai dengan tujuan OKJTG FT-UH, apabila pernyataan tersebut masih membingungkan maka mungkin kita dapat mendeskripsi kader dan anggota terlebih dahulu lalu kemudian kita dapat meredefenisi kata-kata tersebut.

Anggota merupakan seluruh mahasiswa yang telah mengikuti semua syarat secara kontitusional pada suatu komunitas sedangkan kader adalah anggota yang dipersipkan atau mempersipkan keberlanjutan dan kesinambungan komunitas. Artinya anggota lebih luas dibandingkan kader. Untuk lebih jelasnya kita dapat melihat contoh gambaran tangga pengkaderan

Banyak kalangan yang menganggap bahwa tangga pengkaderan adalah jenjang kaderisasi, yang dicetuskan oleh kanda Dedi Irfan G’00, namun penulis menganggap bahwa pernyataan tersebut keliru, sebab tangga tersebut adalah jenjang kapabilitas, hal ini dapat terlihat pada penjelasan selanjutnya. Penulis akan memberikan penjelasan terhadap gambar diatas. terlihat jelas dalam gambar diatas bahwa pada organisasi yang berorientasi hasil pada “proses” ini, memperlihatkan variable waktu dalam pencapaian tingkatan kapabilitas, artinya waktu berbanding lurus dengan kapabilitas, sehingga penulis ingin menyampaikan bahwa tidaklah akan sama kapabilitasnya orang yang belum pernah meaplikasikan ilmunya dengan orang yang telah mengaplikasikan ilmunya, walaupun dia(muda) lebih paham secara konseptual. Untuk lebih jelasnya penulis akan mendeskripsikan gambar diatas, namun penulis berharap hal tersebut tidak akan mendiskreditkan salah satu angkatan:

2008 : Merupakan anggota baru OKJTG FT-UH yang baru menginjakkan kaki pada dunia kemahasiswaan dan organisasi yang bersifat kontinuitas ini, sehingga terlihat jelas kapabilitas mereka merupakan yang terendah dalam gambar diatas, artinya semua anggota pada angkatan ini harus berproses secara kuantitatif, agar menghasilkan kompetisi antar individu sehingga menguatkan komunitas.

2007 : Merupakan anggota yang berada pada tangga ke-2, pada tangga ini diharapkan telah tercipta kader-kader yang siap dalam kualitatif dalam pelaksanaan usaha-usaha pencapaian tujuan organisasi.

2006 : Merupakan anggota yang telah mempunyai kapabilitas dan diharapkan mampu melanjutkan organisasi dalam zona struktural atau dalam hal ini lembaga-lembaga tinggi tingkat OKJTG FT-UH.

2005 : Merupakan anggota yang berada pada pucuk tingkatan pengkaderan, sebab mereka telah mempunyai kapabilitas dan komunitas dalam pengaplikasian pengkaderan yang mengarah terhadap tujuan organisasi.

2004, 2003 dan 2002 : Merupakan anggota biasa yang tidak lagi terkena jenjang pengkaderan, namun masih dalam jenjang kapabilitas, artinya mereka telah mengaplikasikan pengkaderan dengan jalan menduduki lembaga-lembaga tinggi pada lingkup OKJTG FT-UH, sehingga apakah perlu kita menanyakan kapabilitas dan komunitas mereka?, penulis rasa tidak, dan penulis yakin 100% bahwa kapabilitas mereka diatas pengurus, sehingga tidak mungkin sesuatu yang lebih paham diajar oleh sesuatu yang paham.

Dari pemaparan diatas sudah jelas memberikan gambaran siapa-siapa saja yang terkena objek pengkaderan pada organisasi ini, yaitu angkatan 2005,2006,2007, dan 2008.

BUDAYA (Culture)

“Satu Komando”, Apa Itu?, Komandan, jenderal, panglima, dll, apa itu?. Dalam suatu komunitas sudah akan tentu akan melahirkan perilaku individu dan kemudian melahirkan perilaku organisional, selanjutnya pada bahasan ini kita akan membahas budaya pada OKJTG FT-UH, apakah semua yang ada diatas adalah budaya dan marilah kita sedikit mengulas hal yang bagi beberapa kalangan dianggap tabu untuk diperbincangkan. Pertanyaan hari ini adalah apa itu budaya, untuk apa, dan apakah budaya kita hari ini adalah urgensitas atau hanya formalitas, kita mulai dengan kata “JENDERAL”, sebelumnya penulis memohon maaf kepada pembaca apabila kata-kata penulis terlalu bersifat sarkastik (Kasar), jenderal adalah jabatan tertinggi pada suatu instansi atau organisasi kemiliteran, pertanyaannya kenapa hal ini diterapkan pada OKJTG FT-UH?, menurut kajian historikalnya kata jenderal dimulai pada tahun 1986 di mulai oleh kanda Arham M.A Bahar G’83, beliau adalah sang revolusioner geologi dari kondisi mati suri menjadi hidup kembali, beliau adalah Ketua HMG FT-UH Periode 1986-1987, kata jenderal diperoleh dari kesenangan beliau mengenakan celana loreng (TNI) sehingga banyak kalangan yang memanggil beliau dengan sebutan JENDERAL, dari hal tersebutlah sebutan jenderal untuk ketua-ketua HMG FT-UH diperoleh, dan dari hal tersebut pula diperoleh system pemerintahan, metodologi pemerintahan, dll. Pertanyaannya kemudian apakah pada zaman ini, system tersebut merupakan urgensitas ataukah hanya merupakan formalitas saja, dengan tujuan menjaga kultur, menurut persepsi penulis sumber kultur tersebut (JENDERAL), dimasa kini hanyalah sebuah formalitas tanpa nilai, kenapa?, sebab tidak semua ketua HMG FT-UH mampu berperan sebagai jenderal dan hanya mampu menjadi symbol lembaga, hal ini juga disebabkan banyak kalangan yang tidak mampu memahami budaya sebagai sesuatu yang dinamis namun dengan esensi yang statis, banyak ketua HMG FT-UH yang beranggapan jika zaman dulu beda dengan zaman sekarang sehingga secara kontekstual penerapan sistem juga harus beda, benarkah demikian?, jangan pernah menyalahkan zaman atas ketidakmampuan, namun salahkan diri anda yang tidak mampu mengatur zaman. Sistim satu komando merupakan sistim yang sangat kontradiktif terhadap tujuan OKJTG FT-UH, dalam hal ini penciptaan kader yang memiliki sikap mental yang ilmiah, idealis dan kritis serta propesional, sistim ini merupakan system kebuntuan demokrasi dan akan mematikan daya nalar sehingga tidak akan mampu mencapai hasil atau tujuan OKJTG FT-UH. Dewasa ini telah muncul budaya baru, entah ini merupakan disintegrasi budaya atau malah integrasi budaya yang ideal, dimasa kini posisi lembaga yudikatif dan legislative sebut saja DMMG FT-UH telah memiliki citra yang setara dengan HMG FT-UH sehingga tidaklah mustahil bila ada kultur yang baru yang muncul dari lembaga ini, adalah sebutan untuk simbolitas tertinggi yaitu ketua dewan yang kemudian dipanggil dengan sebutan “KD”, dalam hal ini penulis juga belum mampu mengulas topic ini, sebab hal ini baru dan membutuhkan waktu panjang dalam pengkajiannya. Inti dari bahasan ini telah banyak esensi kultur yang dibuat dinamis oleh para pelaksana kultur, Fenomena ini harus cepat dibenahi apabila OKJTG FT-UH ingin eksis dan efektif untuk pencapaian tujuan OKJTG FT-UH.

Dinamika OKJTG FT-UH

“PENYAMBUTAN PRAJURIT BARU GEOLOGI 2009”, mendengar rantaian kata didepan, penulis yakin bahwa seluruh kader OKJTG FT-UH pasti mengetahui apa itu? Namun tidak semua paham untuk apa itu?, untuk siapa itu?. Benarkah seperti itu, ataukah hal itu hanya justifikasi penulis sendiri. “PENYAMBUTAN PRAJURIT BARU GEOLOGI 2009”, merupakan suatu pengkaderan formal sebagai mekanisme kontitusional perekrutan anggota dan calon kader geologi kedepan, untuk siapa?, kita harus sepaham sebelumnya bahwa kegiatan yang paling banyak diminati anggota OKJTG FT-UH adalah “PENYAMBUTAN PRAJURIT BARU GEOLOGI 2009”, selanjutnya dalam pelaksanaan kegiatan ini dibutuhkan beberapa unsur penunjang yaitu peserta,panitia pelaksana, panitia pengarah, pengurus, birokrasi, dan alumni, sebelumnya lagi kita harus sepaham bahwa seluruh unsur tersebut mempunyai kepentingan masing-masing, namun pertanyaannya siapa target sesungguhnya?, jawabannya adalah Panitia Pelaksana, mengapa demikian, sebab disinilah awal pembentukan karakteristik, sikap, mental panitia sehingga akan diturunkan kepada calon anggota baru, artinya apabila metodologinya religius maka religiuslah 2009 dan apabila militansi maka militansilah mereka. Kemudian turunannya adalah untuk memudahkan panitia pelaksana dalam tahapan kepengurusan lembaga nantinya,. Sebab massa riil mereka, ada pada calon anggota baru tersebut. Semoga pembahasan ini dapat memberikan pencerahan bagi pembaca mengenai “PENYAMBUTAN PRAJURIT BARU GEOLOGI 2009”, yang penulis anggap sebagai dinamika terbesar OKJTG FT-UH sebagai lembaga kaderisasi non struktural UNHAS.

2 komentar:

deleted mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
coretinspire mengatakan...

pertama, rasa salute saya atas kepiawaian penulis dalam mengutarakan tulisanya secara sistematik dan radikal,

saya ingin bertanya, apa alasan mendasar penulis menjadikan 'penyambutan prajurit baru' sebagai dinamika utama dalam OKJTG FT-UH...?? dalam hal ini bukan maksud saya untuk menafikan penyambutan prajurit baru karena hal tersebut merupakan hal vital dalam OKJTG kita.
"menulis adalah proses menuju keabadian" (pramoedya ananta toer)