Sabtu, 14 Maret 2009

Setitik Awan dibalik topeng kemunafikan

By: Chandra Yudha G’05


Embun sejuk menyapa, menyelimuti sebuah negeri nan indah, negeri yang penuh dengan tawa,canda dan rasa kental kebersamaan, walau negeri ini jauh dari peradaban dan hanya hidup dari kebiasaan alias tanpa aturan, tapi mereka mampu hidup sempurna,… live free, freedom, free man, dll, semua kata yang sesungguhnya tak mampu menggambarkan betapa sempurnanya negeri itu. Sebut saja negeri “Mentari”, negeri yang berdiri diatas pondasi kokoh persaudaraan, sistim masyarakat tanpa kelas dan pilar-pilar kesatria nan tangguh. Kehebatan negeri ini tak lepas dari para kesatria-kesatrianya yang rela berdarah demi tanah air tercinta, hampir seluruh negera tetanggapun mengakui bahwa kesatria-kesatria jebolan negeri ini adalah yang terbaik, namun ada satu hal yang luput dari perhatian negeri ini, ternyata kehebatannya menciptakan kesatria tangguh, mempunyai sebuah kelemahan, beberapa kesatria yang telah terdidik dan terlatih di padepokan ini, berniat untuk mendirikan sebuah negara. Negeri “Awan” sebuah Negara dengan harapan pembebasan, dan Pemberontakpun dilakuakan, kekuatan dikompakkan dan titipan api kebencian diberikan kepada seluruh kesatria pemberontak. Kemudian waktunyapun tiba, seluruh pasukan negeri Mentari dan para kesatria pemberontak Negeri Awan telah berdiri dibarisan pertempuran, para kesatria terbaik merekapun telah berdiri dibarisan terdepan, mereka semua telah siap mati demi mempertahankan prinsipnya masing-masing. Dan tiba-tiba, SERANG, LAWAN, BUNUH, lantang terdengar, mengkumandang dinegeri yang katanya indah itu, 5 purnama telah berlalu menyisahkan kesatria-kesatria tangguh yang masih mampu bertahan dimedan perang. Perang yang akupun tak tahu kapan akhirnya dan siapa pemenangnya, yang ku tahu kini, negeri indah itu hanya tersisa puing-puing yang terbuang dan terlupakan jasanya oleh kesatria-kesatria busuk yang tak tahu balas jasa, yang hanya mampu berlindung dibalik topeng kemunafikan yang dengan alasan ketidakmampuan negeri Mentari memberikan apa yang mereka inginkan, segala carapun dilakukan. Namun hingga hari ini negeri Awan tersebut belum kunjung terbentuk, mengapa??? Mungkin, karena kentalnya persaudaraan dan tak satupun mampu mencairkannya atau mungkin hanya waktu yang akan mencairkannya. Jauh didasar hati ini berharap, negeri indah itu kembali sedia kala, sebuah harapan maya dan begitu pilu tuk didengar.

Tidak ada komentar: